Pages

Saturday, 1 November 2014

REVIEW BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS PAULO FREIRE





             Berikut akan dipaparkan review buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paolo Freire yang secara garis besar berisikan tentang pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengannya.


BAB I

            Humanisasi merupakan fitrah manusia, fitrah inilah yang sering terlupakan dan dengan sengaja ditiadakan. Terlupakan dalam bentuk pengingkaran tersebutlah, justru humanisasi diakui dalam bentuk- bentuk perlakuan tidak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas yang nantinya memunculkan perjuangan para kaum tertindas untuk menemukan kembali harkat kemanusiaan mereka yang hilang. Perlakuan tidak manusiawi dari kaum penindas akan mendorong para kaum tertindas untuk bertindak dalam perjuangan melawan penindasan.
            Masalah utamanya adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang tidak membuat pola sesat ini terulang untuk sekian kalinya, dimana kaum tertindas yang nantinya bebas dari penindasan malah berbalik menjadi penindas. Manusia baru hasil dari situasi ini adalah penindas, mereka yang awalnya tertindas memiliki pola pikir yang cenderung telah dibentuk oleh kontradiksi dalam situasi nyata yang telah mereka alami. Pola kontradiksi antara penindas dan kaum tertindas inilah yang harus diubah, tujuan kaum tertindas adalah menjadi manusia seutuhnya, dengan hanya membalik posisi kontradiksi yang ada antara penindas-tertindas bukanlah tindakan yang benar untuk mencapai tujuan menjadi manusia seutuhnya.
            Rendah diri adalah sikap utama yang membuat kaum tertindas semakin tenggelam dalam kubangan penindasan. Dalam pandangan kaum tertindas, mereka menganggap dirinya sebagai “benda” yang artinya dimiliki oleh kaum penindas. Kaum tertindas secara emosional tergantung pada penindas, sikap inilah yang nantinya menciptakan perilaku nekrofilis : perusakan kehidupan. Kesadaran harus mulai dibentuk dalam diri kaum tertindas, perjuangan ini harus dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah dengan sengaja dihancurkan. Dialog yang ajeg antara penindas dan kaum tertindas, serta keikutsertaan aktif serta bersama-sama mengamati realita. Ketika memperoleh pengetahuan tentang realitas yang terjadi itu secara kritis, tetapi juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan itu. Nantinya, mereka akan menyadari dirinya sebagai pencipta kembali pengetahuan yang tetap. Kehadiran kaum tertindas dalam perjuangan terhadap pembebasannya akan sesuai dengan yang diharapkan, yaitu keterlibatan aktif dan pasti bukan semu.

BAB II

            Sepanjang yang ada hubungan antara guru-murid pada semua tingkatan, baik diluar sekolah memberikan kodisi yang sama didalam pembelajarannya. Watak bercerita (narrative) yang mendasar didalamnya, guru sebagai subjek yang bercerita dan murid merupakan objek-objek yang patuh mendengarkan. Sistem tersebut akan membuat pembelajaran menjadi kaku dan pastinya tidak hidup. Ciri utama pendidikan bercerita ini adalah kemerduan kata-kata yang hasilnya hanya melenakan, bukan kekuatan pengubahnya. Murid hanya menghapal bukan memahami apa yang dikatakan guru, dan murid hanya bisa patuh.
            Pendidikan bercerita tak ubahnya menjadikan murid sebagai “bejana-bejana” kosong atau wadah penampungan. Pendidikan layaknya tempat penabungan, dimana murid menjadi celengan dan guru adalah penabungnya. Inilah konsep pendidikan “gaya bank”, ruang gerak untuk kegiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakakan sebuah pemberian atau anugerah dari seseorang yang berpengetahuan kepada mereka yang dianggapnya tidak memiliki pengetahun “bodoh”, hal ini saja sudah merupakan ciri dari penindasan.
            Pendidikan yang membebaskan adalah pemecahannya dan diperlukan rekonsiliasi. Kontradiksi guru-murid harus dihapuskan, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid. Konsep pendidikan gaya bank menjadikan murid sebagai benda dan gampang diatur, dengan begitu akan mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas. Konsep pendidikan gaya bank cenderung membedakan dua tahap kegiatan seorang pendidik, dimana guru mengamati sebuah onjek lalu menceritakan kembali kepada murid tanpa melibatkan murid secara aktif dalam proses pengamatan objek tersebut. Metode pendidikan hadap-masalah merupakan sikap revulusioner terhadap masa depan, dalam konsep ini murid bukanlah orang yang tertidas, mereka secara aktif dan sadar ikut serta dalam kegiatan belajar.

BAB III

            Keberadaan manusia tidak mungkin tanpa kata, juga tidak berlangsung dalam kata-kata palsu, tetapi dengan kata-kata yang benar dengan apa manusia mengubah dunia. Dialog adalah bentuk perjumpaan diantara sesama manusia, dialog menegaskan dirinya sebagai sarana dimana seseorang memperoleh makna dirinya sebagai manusia. Manusia “dialogis” bersifat kritis dan tahu bahwa walaupun dalam diri manusia terdapat kekuatan untuk mencipta dan mengubah, namun dalam sebuah situasi keterasingan yang nyata dia mungkin saja salah dalam menggunakan kemampuan itu.
            Pendidikan yang sejati tidak berjalan masing-masing, tetapi bersama-sama dan berdampingan. Berlawanan dengan konsep “tabungan” yang anti dialogis dan tidak komunikatif, isi program hadap masalah yang dialogis terdiri dari dan disusun menurut pandangan dunia para murid.


BAB IV

Teori-teori tindakan yang anti dialogis dan dialogis

            Watak pertama dari tindakan anti dialogis adalah keharusan adanya penaklukan, setiap tindak penaklukan melibatkan seorang penakluk dan seseorang atau sesuatu yang ditaklukan. Pecah dan kuasai, manipulasi, dan serangan budaya, dalam hal ini serangan budaya merupakan tindakan lanjut dari memcah dan memanipulasi. Secara sadar penindas akan dengan sengaja memaksakan pemikirannya dan menghiraukan kemampuan atau potensi budaya dari orang lain atau kelompok lain. Kita harus sadar bahwasannya pendidikan bukanlah suatu yang netral, tetapi berpihak pada kepentingan kaum tertentu. Jadilah kebudayaan mereka yang secara dogma dan doktrin di paksakan kepada kaum minoritas, kaum yang secara sadar dirinya ditindas oleh kaum tertentu haruslah angkat senjata dengan gerakan revolusionar yaitu tindakan dialog.


KESIMPULAN

            Dari empat bab yang ada dalam buku ”PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS” dapat disimpulakan bahwa pemikiran freire mengenai pendidikan yang terjadi menurut pengamatannya adalah pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas. Murid pun secara sadar menjadikan dirinya sebagai orang yang tertindas. Semuai itu tidak lepas dari lingkaran sesat yang awalnya telah dimulai dan agaknya sulit untuk diputus, dimana orang-orang yang dulunya tertindas akan berbalik menjadi penindas, bukannya mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi malah melestarikannya.
            Pendidikan dengan konsep ”BANK”, agaknya benar-benar sebuah realita yang terjadi dalam wajah pendidikan dunia. Dimana murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengnnya. Semakin penuh celengan, maka guru akan semakin senang. Bukan itu intisari dari sebuah pendidikan, guru seakan tahu segala hal dan murid layaknya kerbau yang dicocok hidungnya, yang dengan patuh mengikuti instruksi guru yang terkesan ”menindas”. Guru-murid haruslah bersama-sama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, tidak boleh guru menganggap muridya bodoh dan tidak tahu apa-apa, guru haruslah mampu menumbuhkan sikap ingin tahu murid dan berusaha menciptakan iklim belajar yang kondusif serta efektif yang akan merangsang murid bereksperimen. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru, guru-murid secara berdampingan bersama.
            Sifat antidialogis merupakan salah satu sikap penindasan, dimana yang ciri-cirinya adalah penaklukan dan memanipulasi. Guru tak boleh bertindak layaknya penguasa, menjadikan murid sebagai ”benda” yang ia miliki. Layak ditaklukan dan dimanipulasi. Jika dalam pendidikan sifat antidialogis ini berkembang, tak ubahnya pendidikan adalah sebuah ajang tindas-menindas antara guru-murid.


RELEVANSI PENDAPAT FREIRE DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

            Relevansi yang ada dalam buku tersebut terhadap pendidikan di Indonesia adalah Indonesia agaknya memang telah turun-temurun secara sadar menyuburkan praktik penindasan didalam tubuh pendidikannya. Wajah pendidikan bangsa ini layaknya konsep “bank”, murid dijadikannya celengan untuk menabung guru. Kontradiksi hubungan guru-murid terus berkembang, bukannya menyudahi malah sampai saat ini agaknya tradisi ini semakin pesat berkembang.
            Guru bercerita kepada murid, murid dengan patuh mendengarkan dan dipaksa menghapal tanpa memahami makna dari ‘kenapa saya harus menghapalnya’, pengetahuan yang didapat hanyalah pengetahuan ‘kosong melompong’, pengetahuan tanpa dasar konsep. Tentu saja pengetahuan itu akan cepat hilang dan tidak ada bekasnya.
            Sedangkan konsep hadap-masalah agaknya belum berkembang di tubuh pendidikan Indonesia, penyebabnya tentu saja ego guru yang mengakui dirinya adalah penguasa dikelas. Murid dijadikannya benda yang harus ditaklukan, ruang gerak murid dibatasi dengan kata lain guru tidak memfasilitasi murid. Murid bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya menjadikan dirinya kaum tertindas, sadar akan ketertindasannya tetapi tidak tahu mau berbuat apa karena rendah diri dan takut.


Ditulis oleh : Titik

5 comments:

  1. ini mau download yg bukunya langsung lengkap dmna

    ReplyDelete
  2. ini mau download yg bukunya langsung lengkap dmna

    ReplyDelete
  3. mohon pendapat baliknya. istilah gaya bank tampaknya tidak cocok disematkan pada Pendidikan yang dimksud Freire karena manabung uang di bank pasti ada bunganya. mngkin istilah ini perlu dipertimbangkan lagi apakah cocok atau tidak, kritiknya cumpan pada istilahnya saja sih...

    ReplyDelete
  4. secara keseluruhan bukunya memberikan penyedaran yang utuh, seperti yang ditekannkan dalam buku itu bahwa salah satu cara menuju manusia seutuhnya melalui proses penyadaran (konsientitasi).

    ReplyDelete
  5. Poker - Casino Kings
    Our experts have gathered together their data to provide a 해외사이트 great resource for casino 윈 조이 포커 players who want 룰렛 돌리기 to experience 룰렛사이트 poker from all over the world. Poker, Casino, 벳 365 코리아 우회 Bingo

    ReplyDelete