Berikut akan dipaparkan review buku berjudul
“Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paolo Freire yang secara garis besar
berisikan tentang pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini
guru bertindak layaknya seorang penindas murid dijadikannya sebagai bejana
untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid
merupakan celengannya.
BAB I
Humanisasi merupakan fitrah manusia,
fitrah inilah yang sering terlupakan dan dengan sengaja ditiadakan. Terlupakan
dalam bentuk pengingkaran tersebutlah, justru humanisasi diakui dalam bentuk- bentuk
perlakuan tidak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas yang
nantinya memunculkan perjuangan para kaum tertindas untuk menemukan kembali
harkat kemanusiaan mereka yang hilang. Perlakuan tidak manusiawi dari kaum
penindas akan mendorong para kaum tertindas untuk bertindak dalam perjuangan
melawan penindasan.
Masalah utamanya adalah bagaimana
menciptakan suatu kondisi yang tidak membuat pola sesat ini terulang untuk
sekian kalinya, dimana kaum tertindas yang nantinya bebas dari penindasan malah
berbalik menjadi penindas. Manusia baru hasil dari situasi ini adalah penindas,
mereka yang awalnya tertindas memiliki pola pikir yang cenderung telah dibentuk
oleh kontradiksi dalam situasi nyata yang telah mereka alami. Pola kontradiksi
antara penindas dan kaum tertindas inilah yang harus diubah, tujuan kaum
tertindas adalah menjadi manusia seutuhnya, dengan hanya membalik posisi
kontradiksi yang ada antara penindas-tertindas bukanlah tindakan yang benar
untuk mencapai tujuan menjadi manusia seutuhnya.
Rendah diri adalah sikap utama yang
membuat kaum tertindas semakin tenggelam dalam kubangan penindasan. Dalam
pandangan kaum tertindas, mereka menganggap dirinya sebagai “benda” yang
artinya dimiliki oleh kaum penindas. Kaum tertindas secara emosional tergantung
pada penindas, sikap inilah yang nantinya menciptakan perilaku nekrofilis :
perusakan kehidupan. Kesadaran harus mulai dibentuk dalam diri kaum tertindas,
perjuangan ini harus dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah
dengan sengaja dihancurkan. Dialog yang ajeg antara penindas dan kaum
tertindas, serta keikutsertaan aktif serta bersama-sama mengamati realita.
Ketika memperoleh pengetahuan tentang realitas yang terjadi itu secara kritis,
tetapi juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan itu. Nantinya, mereka
akan menyadari dirinya sebagai pencipta kembali pengetahuan yang tetap.
Kehadiran kaum tertindas dalam perjuangan terhadap pembebasannya akan sesuai
dengan yang diharapkan, yaitu keterlibatan aktif dan pasti bukan semu.
BAB II
Sepanjang yang ada hubungan antara
guru-murid pada semua tingkatan, baik diluar sekolah memberikan kodisi yang
sama didalam pembelajarannya. Watak bercerita (narrative) yang mendasar
didalamnya, guru sebagai subjek yang bercerita dan murid merupakan objek-objek
yang patuh mendengarkan. Sistem tersebut akan membuat pembelajaran menjadi kaku
dan pastinya tidak hidup. Ciri utama pendidikan bercerita ini adalah kemerduan
kata-kata yang hasilnya hanya melenakan, bukan kekuatan pengubahnya. Murid
hanya menghapal bukan memahami apa yang dikatakan guru, dan murid hanya bisa
patuh.
Pendidikan bercerita tak ubahnya
menjadikan murid sebagai “bejana-bejana” kosong atau wadah penampungan.
Pendidikan layaknya tempat penabungan, dimana murid menjadi celengan dan guru
adalah penabungnya. Inilah konsep pendidikan “gaya bank”, ruang gerak untuk
kegiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Dalam
konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakakan sebuah pemberian atau
anugerah dari seseorang yang berpengetahuan kepada mereka yang dianggapnya
tidak memiliki pengetahun “bodoh”, hal ini saja sudah merupakan ciri dari
penindasan.
Pendidikan yang membebaskan adalah
pemecahannya dan diperlukan rekonsiliasi. Kontradiksi guru-murid harus
dihapuskan, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid.
Konsep pendidikan gaya bank menjadikan murid sebagai benda dan gampang diatur,
dengan begitu akan mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta
menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas.
Konsep pendidikan gaya bank cenderung membedakan dua tahap kegiatan seorang
pendidik, dimana guru mengamati sebuah onjek lalu menceritakan kembali kepada
murid tanpa melibatkan murid secara aktif dalam proses pengamatan objek
tersebut. Metode pendidikan hadap-masalah merupakan sikap revulusioner terhadap
masa depan, dalam konsep ini murid bukanlah orang yang tertidas, mereka secara
aktif dan sadar ikut serta dalam kegiatan belajar.
BAB III
Keberadaan manusia tidak mungkin
tanpa kata, juga tidak berlangsung dalam kata-kata palsu, tetapi dengan
kata-kata yang benar dengan apa manusia mengubah dunia. Dialog adalah bentuk
perjumpaan diantara sesama manusia, dialog menegaskan dirinya sebagai sarana
dimana seseorang memperoleh makna dirinya sebagai manusia. Manusia “dialogis”
bersifat kritis dan tahu bahwa walaupun dalam diri manusia terdapat kekuatan
untuk mencipta dan mengubah, namun dalam sebuah situasi keterasingan yang nyata
dia mungkin saja salah dalam menggunakan kemampuan itu.
Pendidikan yang sejati tidak
berjalan masing-masing, tetapi bersama-sama dan berdampingan. Berlawanan dengan
konsep “tabungan” yang anti dialogis dan tidak komunikatif, isi program hadap
masalah yang dialogis terdiri dari dan disusun menurut pandangan dunia para
murid.
BAB IV
Teori-teori
tindakan yang anti dialogis dan dialogis
Watak pertama dari tindakan anti
dialogis adalah keharusan adanya penaklukan, setiap tindak penaklukan
melibatkan seorang penakluk dan seseorang atau sesuatu yang ditaklukan. Pecah
dan kuasai, manipulasi, dan serangan budaya, dalam hal ini serangan budaya
merupakan tindakan lanjut dari memcah dan memanipulasi. Secara sadar penindas
akan dengan sengaja memaksakan pemikirannya dan menghiraukan kemampuan atau
potensi budaya dari orang lain atau kelompok lain. Kita harus sadar bahwasannya
pendidikan bukanlah suatu yang netral, tetapi berpihak pada kepentingan kaum
tertentu. Jadilah kebudayaan mereka yang secara dogma dan doktrin di paksakan
kepada kaum minoritas, kaum yang secara sadar dirinya ditindas oleh kaum
tertentu haruslah angkat senjata dengan gerakan revolusionar yaitu tindakan
dialog.
KESIMPULAN
Dari empat bab yang ada dalam buku
”PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS” dapat disimpulakan bahwa pemikiran freire mengenai
pendidikan yang terjadi menurut pengamatannya adalah pendidikan yang menindas,
dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas. Murid
pun secara sadar menjadikan dirinya sebagai orang yang tertindas. Semuai itu
tidak lepas dari lingkaran sesat yang awalnya telah dimulai dan agaknya sulit
untuk diputus, dimana orang-orang yang dulunya tertindas akan berbalik menjadi
penindas, bukannya mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi malah
melestarikannya.
Pendidikan dengan konsep ”BANK”,
agaknya benar-benar sebuah realita yang terjadi dalam wajah pendidikan dunia.
Dimana murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini
bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengnnya. Semakin penuh
celengan, maka guru akan semakin senang. Bukan itu intisari dari sebuah
pendidikan, guru seakan tahu segala hal dan murid layaknya kerbau yang dicocok
hidungnya, yang dengan patuh mengikuti instruksi guru yang terkesan ”menindas”.
Guru-murid haruslah bersama-sama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, tidak boleh guru menganggap muridya bodoh dan tidak tahu apa-apa,
guru haruslah mampu menumbuhkan sikap ingin tahu murid dan berusaha menciptakan
iklim belajar yang kondusif serta efektif yang akan merangsang murid
bereksperimen. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru, guru-murid
secara berdampingan bersama.
Sifat antidialogis merupakan salah
satu sikap penindasan, dimana yang ciri-cirinya adalah penaklukan dan
memanipulasi. Guru tak boleh bertindak layaknya penguasa, menjadikan murid
sebagai ”benda” yang ia miliki. Layak ditaklukan dan dimanipulasi. Jika dalam
pendidikan sifat antidialogis ini berkembang, tak ubahnya pendidikan adalah
sebuah ajang tindas-menindas antara guru-murid.
RELEVANSI PENDAPAT FREIRE DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Relevansi yang ada dalam buku
tersebut terhadap pendidikan di Indonesia adalah Indonesia agaknya memang telah
turun-temurun secara sadar menyuburkan praktik penindasan didalam tubuh
pendidikannya. Wajah pendidikan bangsa ini layaknya konsep “bank”, murid
dijadikannya celengan untuk menabung guru. Kontradiksi hubungan guru-murid
terus berkembang, bukannya menyudahi malah sampai saat ini agaknya tradisi ini
semakin pesat berkembang.
Guru bercerita kepada murid, murid
dengan patuh mendengarkan dan dipaksa menghapal tanpa memahami makna dari
‘kenapa saya harus menghapalnya’, pengetahuan yang didapat hanyalah pengetahuan
‘kosong melompong’, pengetahuan tanpa dasar konsep. Tentu saja pengetahuan itu
akan cepat hilang dan tidak ada bekasnya.
Sedangkan
konsep hadap-masalah agaknya belum berkembang di tubuh pendidikan Indonesia,
penyebabnya tentu saja ego guru yang mengakui dirinya adalah penguasa dikelas.
Murid dijadikannya benda yang harus ditaklukan, ruang gerak murid dibatasi
dengan kata lain guru tidak memfasilitasi murid. Murid bingung tidak tahu apa
yang harus dilakukan, akhirnya menjadikan dirinya kaum tertindas, sadar akan
ketertindasannya tetapi tidak tahu mau berbuat apa karena rendah diri dan takut.
Ditulis oleh : Titik
ini mau download yg bukunya langsung lengkap dmna
ReplyDeleteini mau download yg bukunya langsung lengkap dmna
ReplyDeletemohon pendapat baliknya. istilah gaya bank tampaknya tidak cocok disematkan pada Pendidikan yang dimksud Freire karena manabung uang di bank pasti ada bunganya. mngkin istilah ini perlu dipertimbangkan lagi apakah cocok atau tidak, kritiknya cumpan pada istilahnya saja sih...
ReplyDeletesecara keseluruhan bukunya memberikan penyedaran yang utuh, seperti yang ditekannkan dalam buku itu bahwa salah satu cara menuju manusia seutuhnya melalui proses penyadaran (konsientitasi).
ReplyDeletePoker - Casino Kings
ReplyDeleteOur experts have gathered together their data to provide a 해외사이트 great resource for casino 윈 조이 포커 players who want 룰렛 돌리기 to experience 룰렛사이트 poker from all over the world. Poker, Casino, 벳 365 코리아 우회 Bingo