Pages

Sunday, 2 November 2014

BEHAVIORISTIK

Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Teori Belajar Menurut Thorndike
• 2 Teori Belajar Menurut Watson
• 3 Teori Belajar Menurut Clark Hull
• 4 Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
• 5 Teori Belajar Menurut Skinner
• 6 Analisis Tentang Teori Behavioristik
• 7 Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
• 8 Rujukan

[sunting] Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
[sunting] Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
[sunting] Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
[sunting] Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 199

Aliran Filsafat yang Mempengaruhi Psikologi Behavioristik

Aliran Psikologi Behavioristik dalam perkembangannya tidak terlepas dari keterkaitannya dengan aliran – aliran yang aada di filsafat yang memberikan dasar bagi munculnya aliran psikologi behavioristik. Tiga aliran besar filsafat yang memberi pengaruh bagi terbentuknya akar filsafat dasar behavioristik tersebut adalah empirisme, materialisme.
Aliran Empirisme merupakan cabang filsafat epistemologi yang merupakan aliran yang menekankan pengalaman indrawi sebagai satu-satunya sumber untuk memperoleh pengetahuan. Aliran ini memiliki banyak penganut dalam dunia filsafat anglo Saxon, salah satu tokohnya yaitu Francis Bacon mengenalkan kepada dunia barat metode induktif sebagai cara untuk memperoleh verifikasi kebenaran pengetahuan.

Metode Induktif tersebut merupakan hasil analisis terhadap informasi-informasi yang bahan dasarnya berasal dari pencerapan inderawi terhadap objek-objek pengetahuan (Earle,1992). Dalam konteks informasi yang menjadi bahan dasar terciptanya pengetahuan, muncullah seorang tokoh empirisme yaitu John Locke yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia berasal dari pencerapan-pencerapan inderawi yang kemudian diolah oleh akal budi manusia. Dalam hal ini John locke mengemukakan bahwa akal budi tidak akan mampu melahirkan suatu pengertian apa pun suatu objek pengetahuan tanpa bantuan pencerapan-pencerapan yang dilakukan oleh alat-alat indra manusia. Untuk selanjutnya aliran empirisme tersebut kemudian mempengaruhi munculnya aliran psikologi behaviorisme yang pada intinya ajarannya yaitu mempelajari apa yang dapat diamati oleh inderawi yaitu tingkah laku manusia.
Aliran filsafat positivisme yang berkembang pada abad 19 dengan berbagai ragam varian juga banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan aliran psikologi behavioristik. Pencetus awalaliran positivisme yaitu Auguste Comte yang menjelaskan posisi epistimologisnya dengan menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tidak ungkin diperoleh berdasar pada keyakinan-keyakina teologis maupun keyakinan-keyakinan yang berasal dari pandangan filsafat-filsafat yang bersifat konvensional. Pengetahuan manusia hanya mungkin diperoleh melalui aktivitas-aktivitas observasi ilmiah dan pengukuran secara cermat terhadap fakta-fakta. Aliran positivisme logis atau empirisme logis memberikan penekanan kajian-kajian filsafatnya pada keterkaitan antara bahasa yang digunakan oleh manusia dengan realitas empiris yang berkorespondensi dengan isi bahasa tersebut. (Cooper,1996).
Aliran filsafat materialisme memiliki pandangan ontologis bahwa realitas segala sesuatu dapat dikembalikan pada hukum-hukum yang bersifat material. Aliran materialisme dengan tokoh awalnya Demokritus memiliki keyakinan filosofis yang melakukan penolakan terhadap eksistensi gejala-gejala spiritual atau kerohanian dalam segenap realitas. Artinya bahwa kaum materialis memiliki pandangan filsafat manusia yang menyatakan bahwa hakekat manusia adalah tidak lebih dari susunan kompleks dari unsur-unsur materi.
Aliran materialisme memiliki pandangan ontologi bahwa segenap realitas harus dikembalikan pada prinsip substansial. Prinsip substansial tersebut adalah materi. Dalam hal ini, segenap gejala dalam kehidupan manusia, termasuk gejala-gejala pskologi seperti kesadaran, emosi motivasi tidak lebih merupakan manifestasi dari ciri-ciri dasar hukum materi .
Pencetus pertama aliran materialisme, Demokritus memiliki pandangan bahwa manusia adalah bagian alam dan karena hal itulah maka bersifat material. Konsekuensinya aliran ini tidak mengakui adanya eksistensi spiritualitas dalam diri manusia yang memberikan pandangan atheis tentang ketuhanan karena tuhan dapat dibuktikan secara material.
Dalam kaitannya antara aliran materialisme dengan psikologi behavioristik yaitu bahwa aliran psikologi behavioristik hanya mengakui bahwa sesuatu itu ada apabila dapat diamati oleh indera, sedangkan Tuhan sendiri tidak dapat dilihat oleh alat inderawi.

APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Pendahuluan
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
B. Pembahasan
1. Teori-Teori Belajar
Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu ineraksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Teori Conditioning Watson
Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.
Teori Conditioning Edwin Guthrie
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut.
Teori Operant Conditioning Skinner
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Teori Systematic Behavior Clark Hull
Dalam teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
2. Kelemahan dan kelebihan teori belajar
Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya.
Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
3. Aplikasi Dasar
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
C. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar menurut teori Behavioristik merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon.

Ditulis oleh: Yuly

Contoh soal asesmen dan strategi pembelajaran bagi anak kesulitan belajar membaca pemahaman


A. Biodata Anak
Nama :
Tmp. Tgl Lahir :
Usia :
Agama :
Sekolah :
Kelas :
Berat badan :
Alamat :

Biodata Orang Tua

Nama Ibu :
Tmp. Tgl Lahir :
Agama :
Pekerjaan :

Nama Ayah :
Temp. Tgl Lahir :
Pekerjaan :



B. Hasil Asesmen Reading Comprehension
1. Asesmen Langsung
(Terlampir) Berisi soal-soal yang dikerjakan oleh anak
2. Asesmen Tidak Langsung
Wawancara dengan orang tua
Wawancara informal dengan anak
Hasil belajar anak (Raport, hasil ulangan dan latihan)
Analisis Kurikulum
Kesulitan Belajar Anak

3. Kelebihan anak

4. Kekurangan anak




C. Rencana Program Pembelajaran
A. Materi Pokok
1. Kefasihan dalam Membaca
2. Memahami Isi Bacaan
3. Dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan teks

B. Tujuan
1. Anak mampu membaca dengan lancar tanpa mengejanya
2. Anak dapat memahami isi bacaan
3. Anak mampu menghubungkan pertanyaan dengan bacaan
4. Anak dapat mengambil informasi-informasi dari bacaan
5. Anak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan baik yang berada di dalam teks maupun yang berada di luar teks
6. Anak mampu menganalisa soal-soal yang membuthkan ketekunan dalam membaca tidak asal tebak

Strategi
Strategi belajar untuk Kefasihan Membaca
1. Membaca nyaring
Kegiatan Belajar
o Guru menyiapkan bahan bacaan untuk anak baik naratif atau yang lain.
o Minta anak untuk membacanya dengan nyaring
o Kemudian minta anak untuk membacanya dengan penekanan/Intonasi
2. Mengulang bacaan
Kegiatan Belajar
o Guru memilih cerita pendek yang akan dibaca untuk anak
o Minta anak untuk membaca cerita tersebut
o Kemudian memintanya untuk membaca 2 atau 3 kali lagi

Strategi untuk Membaca Pemahaman
1. Questioning and Answering Strategy
Kegiatan Belajar
o Guru menyiapkan bacaan untuk anak
o Kemudian minta anak untuk membacanya
o Minta anak untuk mengulang baca 2 sampai 3 kali
o Setelah anak selesai membaca
o Berikan pertanyaan kepada anak baik secara lisan ataupun tulisan
o Kemudian setelah anak mampu menjawab pertanyaan tersebut
o Sekarang guru membuat jawaban namun tidak ada pertanyaannya
o Minta anak untuk membuat pertanyaannya

2. Story Mapping and Retelling strategy
Kegiatan Belajar
o Guru sudah memilih cerita yang pas untuk anak
o Untuk strategi ini memang sebaiknya pemilihan bacaan bersifat naratif karena akan membuat anak semakin antusias untuk mengetahui lebih lanjut
o Libatkan anak untuk menjadi actor dalam cerita tersebut
o Buat anak mendalami peran yang ia mainkan
o Buat seolah cerita tersebut memang nyata
o Setelah cerita selesai
o Beri pertanyaan kepada anak
o Kemudian minta anak untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan lisan kemudian disalin ke dalam buku catatan mereka.

3. Self-Questioning Strategy
Kegiatan Belajar
o Setelah anak membaca cerita
o Tanyakan kepada anak “Apakah kamu mengeti dengan cerita ini ?”
o Bila anak belum mengerti minta ia untuk mebacanya lagi dengan suara keras
o Kemudian tanyakan kembali “Apakah kamu sudah mengerti dengan cerita ini?”
o Setelah ia katakan mengerti
o Minta anak untuk menemukan ide dalam cerita tersebut dengan menggaris bawahi
o Minta ia untuk menarik kesimpulan dari cerita tersebut
o Perintahkan anak untuk menuliskan kesimpulannya
o Minta anak untuk memikirkan pertanyaan dari gagasan pokok tersebut
o Guru menilai pertanyaan yang dibuat oleh anak
o Sejauh apa pemahaman anak bisa dilihat dari kesimpulan yang ia tarik dan bagaimana ia mengolah informasi dari bacaan tersebut.

Media
A. Buku Cerita dan Buku Paket (pelajaran)
B. Alat-alat / benda-benda di lingkungan sekitar

Evaluasi
Contoh soal Evaluasi
Membaca nyaring dan menjawab pertanyaan
Tujuan : Anak dapat menyimak bacaan dan mengerti apa yang diceritakan dalam bacaan tersebut

Petunjuk: Bacalah soal cerita di bawah ini dengan keras lalu jawab pertanyaannya!

Pergi ke Sekolah
Seperti biasa setiap pagi nina pergi ke sekolah dengan naik sepeda. di jalan ia bertemu dengan ratih yang sedang berjalan kaki. nina menawarkan ratih untuk pergi bersama-sama dengan membonceng di sepeda nina. ratih mengucapkan terima kasih kepada nina karena ratih dapat lebih cepat sampai di sekolah.
Sesampainya di sekolah nina langsung masuk ke dalam kelas. ia kaget melihat rani sedang menangis. nina mendekati rani dan menanyakan dengan sopan mengapa rani menangis. rani diganggu badu. badu memang anak nakal. nina menghibur rani agar berhenti menangis. Tidak terasa hari sudah siang, saatnya nina pulang sekolah. tiba di rumah, nina melihat ibu sedang menyiapkan makan siang. setelah berganti baju, nina pergi ke dapur. nina membantu ibu mempersiapkan makan siang.
1. Bersama siapa nina pergi ke sekolah ?
2. Siapa yang ditemui Nina di jalan ?
3. apa yang dilakukan nina melihat ratih berjalan kaki?
4. bagaimana sikap ratih kepada nina?
5. Apa yang dilakukan Rani di kelas ?
6. Mengapa Rani menangis ?
7. Apa yang dilakukan Nina ketika melihat Rani menangis ?
8. Mengapa Badu mengganggu Rani ?
9. Bagaimana cara nina untuk membuat rani berhenti menangis?
10. Apa yang dilakukan nina sepulang sekolah?

contoh soal asesmen..
Reading Comprehension (Literal dan Interpretative)

Kakak Tua Pintar

Suatu hari Badrun pergi ke pasar hewan untuk membeli burung kaka tua. Ia melihat seekor kakak tua yang kakinya diikat dengan senar. Kaki sebelah kiri dengan senar putih, dan sebelahnya lagi dengan senar warna hitam. Karena tertarik ingin membeli, ia bertanya tentang fungsi senar itu. “Wah, kamu beruntung sekali. Ini bukan sembarang kakak tua. Ini kakak tua yang terlatih”, Kata penjualnya. “Oh, ya?” Badrun nggak percaya. “Sumprit! Jika tertarik yang hitam, ia akan berbicara bahasa Inggris. Terus kalau kamu tarik yang putih, ia akan berbicara bahasa Indonesia”, ujarnya meyakinkan. “Terus, kalau saya tarik keduanya?” Tanya Badrun. “Aku akan jatuh, bodoh!” teriak sang kakak tua dengan lantang.

Pertanyaan :
1. Apa judul bacaan di atas ?
2. Siapa saja tokoh dalam cerita tersebut ?
3. Dimanakah Badrun membeli burung kakak tua ?
4. Menurut kamu bagaimana watak tokoh Badrun dalam cerita di atas ?


Legenda Dayohan dan Intingan

Cerita ini adalah kisah tentang dua orang kakak beradik. Kakaknya bernama Dayohan dan adiknya Intingan. Mereka bertempat tinggal di gunung. Dayohan si Kakak tetap berada di sekitar ladangnya, sedangkan Intingan gemar menjelajah lembah-lembah di ujung sungai. Hal ini dilakukan apabila musim tuai telah rampung dan padi sudah dirimpung (dimauskkan ke dalam lumbung). Pada suatu hari Intingan minta izin kepada kakaknya untuk berpergian agak jauh dan agak lama. Dengan membawa sebilah Mandau (parang Dayak) di pinggang dan sebuah Butah (Keranjang rotan yang di bawa di punggung) yang terpanggul di punggung berisikan beberapa ruas remang, berangkatlah ia menyusuri sungai dan lembah menuju ke daratan rendah. Setelah berjalan berhari-hari dan berminggu-minggu lamanya, sampailah ia di muara sebuah sungai. Di sana dijumpainya banyak orang berpakaian bagus, tidak seperti dia yang hanya mengenakan cawat dari kulit kayu. Orang di sana menanam padai di sawah, seperti mereka di gunung. Mereka bahuma (berladang) sehingga mereka harus selalu berpindah-pindah tempat untuk bertanam.
Intingan lama berdiam di muara itu. Lambat laun ia meninggalkan adat lamanya dan beristrikan pula seorang wanita dari daerahnya yang baru itu. Bersama anak-istrinya, ia tidak lagi tinggal dibalai (rumah panjang), melainkan di rumah sendiri. Intingan seorang yang rajin berternak babi, ayam, dan itik di dalam kandang. Lama kelamaan Intingan teringat juga kepada kakaknya dan menceritakan betapa senangnya dan ramainya hidup di muara. Namun karena sifatnya tidak sesuai dengan kehidupannya yang baru. Ia pun tidak betah dan memutuskan untuk kembali ke gunung. Hewan peliharaan yang dibawanya dari kerbau, setibanya di rumahnya di gunung segera dilepaskannya, tidak dimasukkan ke dalam kandang. Dari semua binatang peliharaan itu, hanya ayam yang tetap gemar hidup di sekitar rumah tuannya. Itik, sapi, dan kerbau mati semuanya. Hanya babi sajalah yang dapat berkembang biak di dalam hutan menjadi babi hutan.
Dayohan inilah yang kemudian menurunkan “Orang Bukit” di daerah pegunungan Meratus. Jika mereka hendak mengadakan kenduri, mereka terpaksa harus terlebih dahulu berburu babi hutan. Sebaliknya Intingan menurunkan orang-orang yang mendiami dataran rendah dan disebut “Orang Dagang”. Oleh karena kedua suku bangsa ini keturunan dua saudara kandung, orang bukit memanggil “Orang Dagang” dengan sebutan dangsanak, yang berarti “Saudara Kandung”. (Dikutip daro Cerita Rakyat dari Kalimantan oleh James Danandja)


Pertanyaan : (Critical dan Word in context)
1. Sebutkan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut ?
2. Pelajaran apakah yang bisa dipetik dari cerita di atas ?
3. Bagaimana sikap Intingan terhadap Dayohan ?
4. Menurut pendapatmu apakah Intingan sukses dalam berternak?
5. Apakah arti kata rajin dalam bacaan di atas?

Ditulis oleh: Yanti

PENGEMBANGAN BAKAT SENI RUPA UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak berkebutuhan khusus dengan segala keistimewaannya memiliki minat, bakat dan potensi yang masih bisa dikembangkan yang tentunya dapat bermanfaat bagi dirinya sebagai salah satu bentuk penyaluran aktualisasi diri mereka. Berikut akan dipaparkan beberapa karya seni yang dapat digunakan sebagai sarana untuk melatih serta mengembangkan bakat seni Anak Berkebutuhan Khusus.

1. Bunga Tiup
    Alat dan bahan:
  1. Sedotan
  2. Cat air
  3. Crayon
  4. Cetakan daun
  5. Cotton budd
   Tahapan membuat:
  1. gambar sketsa (tangkai pohon) menggunakan crayon.
  2. ambil sedotan dan masukkan ke dalam cat air secukupnya.
  3. tiup sedotan yang sudah ada cat air di tempat yang diinginkan.
  4. ambil cotton budd dan celupkan ke dalam cat air.
  5. totolkan di tengah bunga sebagai pusat bunga.
  6. kreasikan dengan membuat pot bunga atau kreasi lain.
   Manfaat:
  Selain mengembangkan minat seni rupa ABK, kegiatan ini juga melatih keterampilan   motorik halus, koordinasi mata dan tangan, kesabaran, konsentrasi dan organ wicara anak berkebutuhan khusus melalui kegiatan meniup.
2. Kolase Mickey Mouse

    Alat dan bahan:
  1. kertas warna
  2. pembolong kertas
  3. lem fox
  4. pensil
  5. penghapus
   Tahapan membuat:
  1. gambar pola yang diinginkan untuk dikolase, sebagai contoh mickey mouse atau ikan, dengan menggunakan pensil.
  2. pilih kertas warna dengan warna yang sesuai dengan karakter yang akan dikolase.
  3. ambil pembolong kertas dan bolongi kertas warna dengan pembolong kertas.
  4. oleskan lem pada area yang akan dikolase sedikit demi sedikit.
  5. tempelkan kertas warna yang telah berbentuk bundar pada area yang diinginkan secara bertahap.
  6. kreasikan sesuai dengan keinginan.
    Manfaat:
   Kegiatan ini bermanfaat untuk melatih dan mengembangkan keterampilan   motorik halus, koordinasi mata dan tangan, kesabaran, konsentrasi serta taktil anak berkebutuhan khusus.
 
3. Kolase kreasi
   Alat dan bahan:
  1. kertas HVS
  2. cat air
  3. sikat gigi
  4. sisir
   Tahapan membuat:
  1. gambar pola pada kertas HVS sesuai dengan yang diinginkan.
  2. letakkan pola yang telah digunting di atas kertas gambar.
  3. siapkan cat air.
  4. celupkan sikat gigi ke dalam cat air.
  5. gesekkan sikat gigi ke sisir pada area kertas gambar.
  6. diamkan sesaat dan angkat pola yang diletakkan di atas kertas gambar.
   Manfaat:
   Kegiatan ini bermanfaat untuk melatih dan mengembangkan keterampilan   motorik halus, koordinasi mata dan tangan, kesabaran dan konsentrasi anak berkebutuhan khusus.
Demikian beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk melatih dan mengembangkan bakat seni rupa serta beberapa aspek keterampilan anak berkebutuhan khusus. Semoga bermanfaat :)
Ditulis oleh : Handy

Saturday, 1 November 2014

REVIEW BUKU PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS PAULO FREIRE





             Berikut akan dipaparkan review buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paolo Freire yang secara garis besar berisikan tentang pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengannya.


BAB I

            Humanisasi merupakan fitrah manusia, fitrah inilah yang sering terlupakan dan dengan sengaja ditiadakan. Terlupakan dalam bentuk pengingkaran tersebutlah, justru humanisasi diakui dalam bentuk- bentuk perlakuan tidak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas yang nantinya memunculkan perjuangan para kaum tertindas untuk menemukan kembali harkat kemanusiaan mereka yang hilang. Perlakuan tidak manusiawi dari kaum penindas akan mendorong para kaum tertindas untuk bertindak dalam perjuangan melawan penindasan.
            Masalah utamanya adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang tidak membuat pola sesat ini terulang untuk sekian kalinya, dimana kaum tertindas yang nantinya bebas dari penindasan malah berbalik menjadi penindas. Manusia baru hasil dari situasi ini adalah penindas, mereka yang awalnya tertindas memiliki pola pikir yang cenderung telah dibentuk oleh kontradiksi dalam situasi nyata yang telah mereka alami. Pola kontradiksi antara penindas dan kaum tertindas inilah yang harus diubah, tujuan kaum tertindas adalah menjadi manusia seutuhnya, dengan hanya membalik posisi kontradiksi yang ada antara penindas-tertindas bukanlah tindakan yang benar untuk mencapai tujuan menjadi manusia seutuhnya.
            Rendah diri adalah sikap utama yang membuat kaum tertindas semakin tenggelam dalam kubangan penindasan. Dalam pandangan kaum tertindas, mereka menganggap dirinya sebagai “benda” yang artinya dimiliki oleh kaum penindas. Kaum tertindas secara emosional tergantung pada penindas, sikap inilah yang nantinya menciptakan perilaku nekrofilis : perusakan kehidupan. Kesadaran harus mulai dibentuk dalam diri kaum tertindas, perjuangan ini harus dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah dengan sengaja dihancurkan. Dialog yang ajeg antara penindas dan kaum tertindas, serta keikutsertaan aktif serta bersama-sama mengamati realita. Ketika memperoleh pengetahuan tentang realitas yang terjadi itu secara kritis, tetapi juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan itu. Nantinya, mereka akan menyadari dirinya sebagai pencipta kembali pengetahuan yang tetap. Kehadiran kaum tertindas dalam perjuangan terhadap pembebasannya akan sesuai dengan yang diharapkan, yaitu keterlibatan aktif dan pasti bukan semu.

BAB II

            Sepanjang yang ada hubungan antara guru-murid pada semua tingkatan, baik diluar sekolah memberikan kodisi yang sama didalam pembelajarannya. Watak bercerita (narrative) yang mendasar didalamnya, guru sebagai subjek yang bercerita dan murid merupakan objek-objek yang patuh mendengarkan. Sistem tersebut akan membuat pembelajaran menjadi kaku dan pastinya tidak hidup. Ciri utama pendidikan bercerita ini adalah kemerduan kata-kata yang hasilnya hanya melenakan, bukan kekuatan pengubahnya. Murid hanya menghapal bukan memahami apa yang dikatakan guru, dan murid hanya bisa patuh.
            Pendidikan bercerita tak ubahnya menjadikan murid sebagai “bejana-bejana” kosong atau wadah penampungan. Pendidikan layaknya tempat penabungan, dimana murid menjadi celengan dan guru adalah penabungnya. Inilah konsep pendidikan “gaya bank”, ruang gerak untuk kegiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakakan sebuah pemberian atau anugerah dari seseorang yang berpengetahuan kepada mereka yang dianggapnya tidak memiliki pengetahun “bodoh”, hal ini saja sudah merupakan ciri dari penindasan.
            Pendidikan yang membebaskan adalah pemecahannya dan diperlukan rekonsiliasi. Kontradiksi guru-murid harus dihapuskan, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid. Konsep pendidikan gaya bank menjadikan murid sebagai benda dan gampang diatur, dengan begitu akan mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas. Konsep pendidikan gaya bank cenderung membedakan dua tahap kegiatan seorang pendidik, dimana guru mengamati sebuah onjek lalu menceritakan kembali kepada murid tanpa melibatkan murid secara aktif dalam proses pengamatan objek tersebut. Metode pendidikan hadap-masalah merupakan sikap revulusioner terhadap masa depan, dalam konsep ini murid bukanlah orang yang tertidas, mereka secara aktif dan sadar ikut serta dalam kegiatan belajar.

BAB III

            Keberadaan manusia tidak mungkin tanpa kata, juga tidak berlangsung dalam kata-kata palsu, tetapi dengan kata-kata yang benar dengan apa manusia mengubah dunia. Dialog adalah bentuk perjumpaan diantara sesama manusia, dialog menegaskan dirinya sebagai sarana dimana seseorang memperoleh makna dirinya sebagai manusia. Manusia “dialogis” bersifat kritis dan tahu bahwa walaupun dalam diri manusia terdapat kekuatan untuk mencipta dan mengubah, namun dalam sebuah situasi keterasingan yang nyata dia mungkin saja salah dalam menggunakan kemampuan itu.
            Pendidikan yang sejati tidak berjalan masing-masing, tetapi bersama-sama dan berdampingan. Berlawanan dengan konsep “tabungan” yang anti dialogis dan tidak komunikatif, isi program hadap masalah yang dialogis terdiri dari dan disusun menurut pandangan dunia para murid.


BAB IV

Teori-teori tindakan yang anti dialogis dan dialogis

            Watak pertama dari tindakan anti dialogis adalah keharusan adanya penaklukan, setiap tindak penaklukan melibatkan seorang penakluk dan seseorang atau sesuatu yang ditaklukan. Pecah dan kuasai, manipulasi, dan serangan budaya, dalam hal ini serangan budaya merupakan tindakan lanjut dari memcah dan memanipulasi. Secara sadar penindas akan dengan sengaja memaksakan pemikirannya dan menghiraukan kemampuan atau potensi budaya dari orang lain atau kelompok lain. Kita harus sadar bahwasannya pendidikan bukanlah suatu yang netral, tetapi berpihak pada kepentingan kaum tertentu. Jadilah kebudayaan mereka yang secara dogma dan doktrin di paksakan kepada kaum minoritas, kaum yang secara sadar dirinya ditindas oleh kaum tertentu haruslah angkat senjata dengan gerakan revolusionar yaitu tindakan dialog.


KESIMPULAN

            Dari empat bab yang ada dalam buku ”PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS” dapat disimpulakan bahwa pemikiran freire mengenai pendidikan yang terjadi menurut pengamatannya adalah pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas. Murid pun secara sadar menjadikan dirinya sebagai orang yang tertindas. Semuai itu tidak lepas dari lingkaran sesat yang awalnya telah dimulai dan agaknya sulit untuk diputus, dimana orang-orang yang dulunya tertindas akan berbalik menjadi penindas, bukannya mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi malah melestarikannya.
            Pendidikan dengan konsep ”BANK”, agaknya benar-benar sebuah realita yang terjadi dalam wajah pendidikan dunia. Dimana murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengnnya. Semakin penuh celengan, maka guru akan semakin senang. Bukan itu intisari dari sebuah pendidikan, guru seakan tahu segala hal dan murid layaknya kerbau yang dicocok hidungnya, yang dengan patuh mengikuti instruksi guru yang terkesan ”menindas”. Guru-murid haruslah bersama-sama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, tidak boleh guru menganggap muridya bodoh dan tidak tahu apa-apa, guru haruslah mampu menumbuhkan sikap ingin tahu murid dan berusaha menciptakan iklim belajar yang kondusif serta efektif yang akan merangsang murid bereksperimen. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru, guru-murid secara berdampingan bersama.
            Sifat antidialogis merupakan salah satu sikap penindasan, dimana yang ciri-cirinya adalah penaklukan dan memanipulasi. Guru tak boleh bertindak layaknya penguasa, menjadikan murid sebagai ”benda” yang ia miliki. Layak ditaklukan dan dimanipulasi. Jika dalam pendidikan sifat antidialogis ini berkembang, tak ubahnya pendidikan adalah sebuah ajang tindas-menindas antara guru-murid.


RELEVANSI PENDAPAT FREIRE DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

            Relevansi yang ada dalam buku tersebut terhadap pendidikan di Indonesia adalah Indonesia agaknya memang telah turun-temurun secara sadar menyuburkan praktik penindasan didalam tubuh pendidikannya. Wajah pendidikan bangsa ini layaknya konsep “bank”, murid dijadikannya celengan untuk menabung guru. Kontradiksi hubungan guru-murid terus berkembang, bukannya menyudahi malah sampai saat ini agaknya tradisi ini semakin pesat berkembang.
            Guru bercerita kepada murid, murid dengan patuh mendengarkan dan dipaksa menghapal tanpa memahami makna dari ‘kenapa saya harus menghapalnya’, pengetahuan yang didapat hanyalah pengetahuan ‘kosong melompong’, pengetahuan tanpa dasar konsep. Tentu saja pengetahuan itu akan cepat hilang dan tidak ada bekasnya.
            Sedangkan konsep hadap-masalah agaknya belum berkembang di tubuh pendidikan Indonesia, penyebabnya tentu saja ego guru yang mengakui dirinya adalah penguasa dikelas. Murid dijadikannya benda yang harus ditaklukan, ruang gerak murid dibatasi dengan kata lain guru tidak memfasilitasi murid. Murid bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya menjadikan dirinya kaum tertindas, sadar akan ketertindasannya tetapi tidak tahu mau berbuat apa karena rendah diri dan takut.


Ditulis oleh : Titik

Saturday, 6 September 2014

PROFIL KAMI

Orthopedagog ABK
(Organisasi Tempat Himpunan Orang Peduli Golongan Anak Berkebutuhan Khusus) 


1. Latar Belakang Orthopedagog ABK 

Terlahir ke dunia merupakan suatu anugerah dari Tuhan YME untuk anak manusia. Setiap anak yang lahir ke dunia telah digariskan oleh Tuhan YME dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tiada seorang anakpun yang dapat menolak karunia yang diberikan oleh Tuhan YME. Karunia Tuhan tersebut dapat semakin berkembang atau justru menghilang, yang dapat terlihat pada masa perkembangan anak selanjutnya.
Dalam masa perkembangan seorang anak, ternyata tidak semua anak mengalami diagram perkembangan normal seperti kebanyakan anak pada umumnya. Di antara mereka ada yang mengalami hambatan, gangguan, kelambatan atau kemunduran perkembangan sehingga untuk mencapai perkembangan yang optimal, mereka membutuhkan penanganan atau intervensi khusus. Mereka inilah yang dikenal dengan istilah anak berkebutuhan khusus.
Menurut Heward, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjuk pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus bukan hanya anak dengan gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan intelektual, gangguan fungsi anggota tubuh, gangguan emosi dan tingkah laku, dan anak kesulitan belajar saja namun juga anak dengan bakat istimewa (gifted and talented).
Dalam perkembangannya, sebagaimana dikutip dari special-learning.com, sebagian keluarga belum sepenuhnya dapat menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus di sekitar mereka. Penolakan tersebut termanifestasi dalam bentuk kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Padahal, dalam teori kebutuhan dasar manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi agar manusia dapat menerima diri seutuhnya dan berkembang ke tahap selanjutnya.
Sikap penolakan keluarga terhadap anak berkebutuhan khusus besar kemungkinannya disebabkan oleh kekeliruan mereka dalam memahami anak berkebutuhan khusus. Diperlukan perspektif baru agar mereka dapat menerima anak-anak berkebutuhan khusus sepenuh hati sehingga mereka dapat melihat potensi yang masih dapat dikembangkan dalam diri anak berkebutuhan khusus. Dengan cinta dan kasih sayang dari anggota keluarga, anak berkebutuhan khusus juga diharapkan dapat semakin nyaman berinteraksi dengan anggota keluarga sehingga ia dapat memunculkan bakat dan potensinya yang masih terpendam. Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan serta dalam taraf ekonomi yang terbilang mampu, berkonsultasi dengan para ahli seperti guru, terapis atau psikolog yang memahami anak berkebutuhan khusus mungkin mudah untuk dilakukan, sehingga mereka dapat lebih terbuka dan menerima anak berkebutuhan khusus dengan lebih baik. Hal yang berbeda dihadapi oleh masyarakat di pinggiran kota yang sulit untuk mengakses informasi tentang anak berkebutuhan khusus sehingga mereka masih keliru dalam memahami hakikat serta kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Dengan dilatarbelakangi hal tersebut di atas, maka dibentuklah Orthopedagog ABK (Organisasi Tempat Himpunan Orang Peduli Golongan Anak Berkebutuhan Khusus), sebuah organisasi yang bertujuan untuk membantu keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan dalam jangkauan yang lebih luas adalah masyarakat, memahami anak berkebutuhan khusus dengan perspektif baru yang lebih baik. 

2. Visi dan Misi Orthopedagog ABK
2.1. Visi Orthopedagog ABK
Menjadi organisasi yang memberikan pelayanan edukasi, sosialisasi dan konsultasi tentang anak berkebutuhan khusus. 

2.2. Misi
  1. Memberikan pelayanan edukatif kepada anak berkebutuhan khusus sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan mereka sehingga dapat membantu mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak berkebutuhan khusus.
  2. Memberikan sosialisasi kepada keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus serta masyarakat yang memiliki warga berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat memahami anak berkebutuhan khusus dengan lebih baik.
  3. Memberikan pelayanan konsultasi pada keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus serta masyarakat yang memiliki warga berkebutuhan khusus tentang anak berkebutuhan khusus sehingga mereka mengetahui cara yang lebih tepat dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
  4. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang mempunyai kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus.
3. Program dan Sasasaran Program Orthopedagog ABK
3.1. Program Orthopedagog ABK
Program kami yaitu melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan program yang kami lakukan, diharapkan dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan masing-masing individu anak berkebutuhan khusus. Beberapa program yang kami lakukan untuk anak berkebutuhan khusus diantaranya yaitu:
  1. Pelatihan motorik kasar : melakukan kegiatan senam pagi bersama, cross country (berjalan mengelilingi lingkungan sekitar rumah untuk mengenalkan mereka dengan lingkungan sekaligus melatih kebugaran mereka), melakukan kegiatan olahraga permainan tradisional serta kegiatan lain yang dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar dan kebugaran jasmani anak berkebutuhan khusus.
  2. Pelatihan motorik halus : melakukan kegiatan yang bertujuan untuk melatih kelenturan motorik halus, melatih kemampuan konsentrasi dan kesabaran anak berkebutuhan khusus, diantaranya yaitu kegiatan meronce, menggunting, mewarnai, serta pengenalan konsep garis (basic stroke) untuk mengarahkan dan mengembangkan kemampuan menulis anak berkebutuhan khusus.
  3. Pelatihan aktivitas sehari-hari (activity daily living): cara mencuci tangan, menggosok gigi, menggunakan peralatan makan serta aktivitas-aktivitas lain yang relevan dengan keseharian anak berkebutuhan khusus sehingga mereka mengetahui cara melakukan aktivitas-aktivitas tersebut dengan cara yang baik dan benar.
  4. Pelatihan calistung : kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak berkebutuhan khusus.
Selain untuk anak berkebutuhan khusus, kami juga mempunyai program untuk orangtua serta masyarakat yang memiliki serta peduli kepada anak berkebutuhan khusus. Program kami untuk orangtua dan masyarakat diantaranya sebagai berikut:
  1. Program sosialisasi : program ini bertujuan untuk membuka wawasan orangtua dan masyarakat mengenai anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka yang sebelumnya belum memahami anak berkebutuhan khusus menjadi lebih paham dan yang sudah memahami anak berkebutuhan khusus menjadi lebih luas lagi wawasannya. Melalui program sosialisasi ini kami juga ingin mengembangkan perspektif yang positif mengenai anak berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat diterima dengan baik di lingkungan sekitarnya.
  2. Program konsultasi : program ini bertujuan untuk membantu keluarga yang memiliki anggota keluarga berkebutuhan khusus dan masyarakat yang memiliki warga berkebutuhan khusus di lingkungannya. Melalui program ini diharapkan keluarga dan masyarakat mendapatkan solusi penanganan anak berkebutuhan khusus ketika mereka dalam kondisi bad mood, mal adaptive atau temper tantrum, dengan lebih baik.
  3. Program sharing session :program yang memfasilitasi keluarga-keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk bertemu dan saling bertukar pikiran serta hal-hal yang terkait dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Program yang kami laksanakan akan didokumentasikan secara berkala, baik berupa dokumentasi foto dan video maupun dokumentasi laporan berupa laporan pelaksanaan kegiatan. 

3.2. Sasaran Program Orthopedagog ABK
Adapun yang menjadi sasaran program kami diantaranya yaitu:

   1. Anak Berkebutuhan Khusus, mencakup:
  • Anak dengan gangguan penglihatan
  • Anak dengan gangguan pendengaran
  • Anak dengan gangguan perkembangan intelektual
  • Anak dengan gangguan anggota tubuh
  • Anak dengan gangguan emosi dan tingkah laku
  • Anak dengan kesulitan belajar
  • Anak dengan bakat istimewa
   2. Keluarga dengan anggota keluarga berkebutuhan khusus
   3. Masyarakat dengan warga berkebutuhan khusus
   4. Struktur Organisasi Orthopedagog ABK

       Struktur organisasi dari Orthopedagog ABK yaitu sebagai berikut:
  • Ketua Umum : Titik Azari, S.Pd
  • Sekretaris : Handy Hasan Bisri, S.Pd
  • Bendahara : Lulu Fatimah, S.Pd
  • Admin Social Media : Laila Mar’atus Saliha, S.Pd 
  • Hubungan Masyarakat : Yuly Tanjung, S.Pd
  •                                        Yanti Salamah, S.Pd
  •                                        Lulu Fatimah, S.Pd
  • Koordinator Lapangan : Yunitasari Oktavianingrum, S.Pd
     

   5. Kemitraan Orthopedagog ABK
Orthopedagog ABK merupakan suatu organisasi non-profit yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan untuk anak berkebutuhan khusus. Untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan, kami membuka kesempatan bagi semua pihak yang peduli terhadap anak berkebutuhan khusus untuk menjalin kemitraan baik berupa sponsorship maupun kegiatan sukarelawan. 


Jakarta, 02 Juli 2014


Ketua Umum Orthopedagog ABK
Titik Azari, S.Pd